Laman

Rabu, 24 Juni 2015

BUDAYA JEPARA

                    

               TRADISI PERANG OBOR 

         

        Perang obor-obor adalah sebuah tradisi turun temurun yang dipercaya oleh masyarakat Jepara terutama warga Tegal Sambi sebagai ritual tolak balak dan rasa syukur warga desa atas hasil panen padinya. Agar tahun-tahun yang akan datang  selalu diberikan  riziki dari Allah SWT.Tradisi perang obor ini dilestarikan oleh warga dan dijaga agar tradisi ini tidak hilang. Perang obor ini selalu ditunggu masyarakat Jepara setiap tahunnya. Upacara itu juga dilengkapi dengan pagelaran wayang kulit. Ada prosesi mengarak pedang pusaka yang dipercaya 

sebagai warisan Sunan Kalijaga. Pusaka itu merupakan serpihan kayu yang digunakan untuk membangun Masjid Demak.
Tempat dan waktu pelaksanaan perang obor : pelaksanaannya tepat di perempatan Tegal Sambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.Waktu pelaksanaan  pada Senin Pahing, malam Selasa Pon di Bulan Dzulhijjah. Upacara ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Jadi, perang obor-obor ini selalu ditunggu kedatangannya oleh masyarakat Jepara.

  Sebelum saya bahas lebih jauh lagi, mengenai perang obor ini. Pastinya Anda yang membaca tulisan saya ini, penasaran dengan apa perang obor itu. Bacalah tulisan ini dengan saksama. Upacara ini menggunakan gulungan atau bendelan pelepah kelapa yang sudah kering dan bagian dalamnya diisi dengan daun pisang kering. Agar pelepah itu dapat dengan mudah dibakar lalu digunakan untuk saling menyerang sehingga terjadi benturan-benturan dan menghasilkan api yang besar. Dalam tradisi ini, pemain perang obor harus benar-benar pria yang berani dan tidak takut dengan api serta berdarah asli  orang Tegal Sambi. Jadi tidak sembarang orang bisa memainkan upacara ini.

      Dalam pelaksanaan perang obor ini, mereka menggunakan pakain panjang, bagian kepala dan wajah dilapisi dengan kain dan memakai caping. Jika pemain dan penonton terkena api dari obor-obor itu, jangan diobati didokter tetapi diobati dengan minyak kelapa, ramuan khas yang telah disediakan warga Tegal Sambi dan diberi air sumur. Konon air sumur itu dapat menyembuhkan percikan api itu. Setelah diberi ramuan itu, dengan cepat kulit yang terkena api itu langsung cepat sembuh dan mereka tidak merasakan sakit lagi.

   Sejarah cerita perang obor  dulu di Desa Tegal Sambi terdapat petani yang kaya raya, yang mempunyai banyak hewan ternak terutama sapi. Petani itu sering dipanggil dengan sebutan “Mbah Kyai Babadan”. Kyai Babadan ini kesulitan merawat hewan ternaknya,karena terlalu banyak hewan ternaknya. Kemudian Kyai Babadan mencari seorang untuk mengembala sapi-sapinya , kemudian Kyai Babadan mendapatkan seorang pengembala yang rajin sesuai dengan keinginan Kyai Babadan. Pengembala itu bernama Ki Gemblong. Berkat tekunnya Ki Gemblong merawat sapi itu,sapi itu menjadi gemuk-gemuk dan terhindar dari penyakit. Berkat berhasilnya merawat sapi-sapi itu, Kyai Babadan memberi kepercayaan kepada Ki Gemblong untuk mengembala sapi-sapi itu.

        Setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikan di sungai. Ketika di sungai, Ki gemblong melihat ikan di sungai. Ki Gemblong mengambilnya dan membakarnya tepat disaat itu Ki Gemblong sedang lapar. Ternyata ikannya rasanya enak dan Ki Gemblong menjadi ketagihan. Maka dari itu, setiap hari hewan-hewan ternak itu digiring kesungai. Dan Ki Gemblong lupa akan hewan ternak itu, Ia tidak pernah merawat hewan ternak itu dan membiarkan hingga sapi-sapi itu menjadi sakit,kurus-kurus satu persatu meninggal. Kyai Babadan tidak terima  dan marah besar dengan meninggalnya sapi-sapi itu, lalu Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan obor dari pelepah kelapa. Ki Gemblong tidak terima dengan itu, lalu Ia membalas serangan dari Kyai Babadan dengan obor juga. Maka terjadinya mereka saling menyeerang. Tidak disadari api itu jatuh di tumpukan jerami kandangnya. 

     Sehingga hewan dikandang itu lari tunggang langgang untuk menghindari api itu dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang itu mampu berdiri dengan tegak. Setelah mereka berdua mengetahui keadaan itu, akhirnya Ki Gemblong dan Kyai Babadan mengakhiri pertarungan itu. Maka dari sejarah cerita itu disebut dengan dengan perang obor dengan tujuan untuk menolak balak dan sedekah bumi sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME.

sumber :
http://video.dak-studio.com/download/YTnRfyShZpktg/tradisi-perang-obor-desa-tegalsambi-tahunan-jepara-jawa-tengah-13-april-2015.html
http://ensiklopediaindonesia.com/wp-content/uploads/2015/01/j20.jpg
links :
umm.ac.id
DevDota2.blogspot.com
hidayah15.blogspot.com
putrinorsa-nanda.blogspot.com
rizvyan.blogspot.com
fitriwijayanti08.blogspot.com
wildanjarjit.blogspot.com
ilwansyah97blogspot.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar